Di Atas Panggung

Semua persiapan sebelum naik ke panggung sudah lengkap, tiba saatnya kamu untuk tampil di atas panggung. Apakah kamu tampil di dalam konser solo, festival musik, maupun acara resepsi pernikahan, baik atau tidaknya sebuah penampilan juga tergantung dari suasana secara keseluruhan. Selain sebagai penyanyi, seorang vokalis juga harus bisa berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi penonton, dan menciptakan suasana yang menyenangkan, atau suasana apa saja sesuai dengan konsep pertunjukkan.
Saat seorang vokalis sudah berada di atas panggung, fokus pikirannya sudah harus berada pada penampilan itu sendiri, dan bukan lagi terlalu berat memikirkan teknik vokalnya. Justru jika seorang vokalis terlalu fokus kepada teknik vokalnya, ia akan terlihat kaku dan tidak ekspresif dalam penampilannya. Inilah mengapa seorang vokalis perlu melatih teknik vokalnya secara rutin, agar teknik vokal tersebut telah menjadi bagian dari dirinya, teknik vokal seperti postur, pernafasan, resonansi, dan elemen lainnya menjadi otomatis.

Pembawaan lirik lagu
Salah satu tugas berat yang diemban seorang vokalis adalah membawakan lirik lagu, baik itu dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maupun bahasa lain. Bagaimana kita membawakan lirik lagu adalah suatu kesenian tersendiri. Sebelum kita menampilkan sebuah lagu di atas panggung sebaiknya kita dalami dahulu isi dari lagu tersebut. Apa cerita di baliknya, bagaimana kesan keseluruhan dari liriknya. Akting adalah bagian dari penampilan kita, maka dari bagaimana kita bisa menghayati cerita dari sebuah lagu jika kita tidak memahami betul isi dari lagu tersebut. Salah satu guru saya, Ibu Deviana Daudsjah pernah mengatakan kepada saya untuk tidak membawakan lagu berbahasa Portugis jika saya tidak mengerti isinya. Tentunya nasihat ini sangat masuk akal, bagaimana kalau ekspresi wajah saya tidak cocok dengan apa yang saya katakan, atau jika pemenggalan kata tidak enak didengar, dan sebagainya.

Dalam membawakan lirik, setiap kalimat yang kita ucapkan haruslah diucapkan seakan-akan kita sungguh mengatakannya dengan jujur dan sepenuh hati. Jika kita tidak percaya dengan apa yang kita katakan, bagaimana pendengar kita bisa percaya? Ketika kita mengatakan “Sakit hatiku” katakanlah dengan penuh perasaan sehingga pendengar kamu pun merasakan sakit hati yang kamu rasakan. Teknik yang bisa kamu gunakan dalam menyampaikan perasaan dalam pengucapan lirik adalah dengan penekanan di tempat tertentu dalam lirik. Penekanan tersebut bisa diaplikasikan pada sebuah suku kata juga pada huruf konsonan dalam sebuah kata. Contohnya, “I love you” akan terdengar berbeda ketika diucapkan “I Love you” dengan penekanan pada huruf konsonan “L” pada kata “love.”

Ekspresi wajah dan gestur
Setelah membawakan lirik dengan baik, tegaskan juga dengan ekspresi kamu. Dalam hal ini, mata seorang vokalis, khususnya, bisa berkata banyak dan memberi dukungan kepada apa yang ia nyanyikan. Peraturan secara umum bagi seorang vokalis di atas panggung adalah untuk tersenyum, tetapi tidak harus selalu demikian. Ada saatnya seorang vokalis akan terlihat pilu, ketika ia menyanyikan lirik yang menyedihkan. Selain ekspresi dari mata dan wajah, tidak kalah penting yaitu gestur atau bahasa tubuh. Jangan ragu untuk menggunakan tangan kamu untuk mempertegas ekspresi kamu.

Penguasaan panggung
Maksimalkan pengunaan area panggung. kamu tidak harus berdiri di tengah terus menerus selama pertunjukkan berlangsung. Berjalanlah sesekali ke kanan atau ke kiri, dekati pemain gitar kamu, berkomunikasilah dengan drummer kamu, jadikan pertunjukkan kamu terasa lebih hidup. Tetapi perlu diingat pula bahwa gerakan yang kita buat di atas panggung tidak perlu berlebihan, jadikan setiap gerakan bermakna.

Kontak mata
Ketika kamu berbicara dengan seorang lawan bicara, tentu kamu akan melihat lawan bicara kamu. Begitu juga dengan penonton, karena ketika tampil di panggung, kamu menyampaikan sebuah cerita atau pesan kepada penonton. Jangan hanya penonton baris depan saja yang kamu berikan perhatian, penonton di sebelah kanan dan kiri maupun yang di barisan belakang, semuanya merupakan bagian dari audiens dan sepatutnya diberikan perlakuan yang sama. Bila kamu tampil di ruang yang sempit, kamu dan penonton kamu akan berada di dalam suasana yang lebih intim. Jagalah komunikasi dengan penonton, lihatlah mereka, sapulah sekeliling ruangan dengan mata kamu.

Kamu tidak harus menatap langsung ke mata seorang penonton, kamu cukup mengarahkan pkamungan ke arah daerah kening dan telinga mereka untuk memberikan kesan bahwa kamu melihat dan berkomunikasi dengan seorang penonton. Tentu ada saatnya kamu merasa ingin menatap ke arah di atas ketinggian penonton atau bahkan memejamkan mata untuk meningkatkan konsentrasi dan penghayatan, silahkan saja dilakukan seimbang dengan interaksi kepada penonton. Dengan teknik ini, penonton akan tetap terjaga perhatiannya ke penampilan kita, mencegah mereka merasa bosan, dan tentunya akan memberikan hasil yang positif bagi mereka dan juga kita sendiri.

Interaksi dengan penonton
Seperti sudah disebutkan di atas bahwa seorang vokalis juga harus bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi penonton. Sesekali seorang vokalis akan berbicara kepada penonton, dimulai dari memperkenalkan diri, memperkenalkan lagu yang akan dibawakan, hingga hal lain seperti melontarkan kata-kata yang lucu sehingga memancing tawa penonton dan mencairkan suasana. Teknik yang kerap kali saya gunakan dalam hal ini adalah menganggap penonton sebagai tamu di rumah saya. Perlakukan mereka seperti tamu kehormatan kita. Apa yang dibicarakan bisa bervariasi, dari masalah latar belakang sebuah lagu, suasana jalan raya di luar area pertunjukkan, hingga cuaca. Buatlah penonton merasa nyaman. Sebuah lelucon atau dua akan membantu mencairkan suasana dan “membuka” pertahanan penonton. Lakukan semua ini dengan cara kamu, tidak perlu berubah menjadi orang lain, jadilah diri kamu sendiri, jika kamu nyaman, penonton juga akan merasa nyaman.

Jika ada kesalahan
Ada kalanya seorang vokalis, ataupun musisi pengiringnya, melakukan kesalahan. Kesalahan tersebut bisa kecil bisa juga kesalahan yang besar. Jika hal ini terjadi kamu tidak perlu panik. Misalnya kamu sedang menyanyikan sebuah lagu lalu di tengah-tengah kamu lupa lirik lagu tersebut, jangan berhenti, karang saja lirik kamu sendiri di tempat, berimprovisasilah, dan maju terus, lupakan bahwa hal itu adalah suatu kesalahan. Atau misalnya musisi pengiring kita salah memainkan bagian lagu, jangan panik, menyanyi saja terus, kemungkinannya hanya dua, yaitu kamu yang mengikuti atau mereka yang akan mengikuti kita, tetaplah terlihat percaya diri. The show must go on!

Hindari mikir di atas panggung
Ketika kita bernyanyi, khususnya di atas panggung, disorot lampu spotlight, di bawah tekanan penonton, kita tidak punya waktu untuk memikirkan lagi masalah teknis seperti cara bernafas, postur, tone production, resonansi, dan sebagainya, yang keluar tinggal refleks. Ketika kita mulai memikirkan hal-hal teknis, performance kita sudah pasti tidak akan maksimal, malah cenderung berantakan. Maka dari itu, semua teknik vokal itu untuk dilatih secara rutin hingga menjadi alami bagi kita.
Selain masalah teknis, kadang kita kehilangan fokus, dan memikirkan hal yang di luar musik yang kita bawakan. Misalnya lagi nyanyi enak-enak, tahu-tahu memikirkan apakah penonton suka dengan penampilan kita atau tidak. Atau malah teringat sesuatu yang tidak nyambung sama sekali, seperti jemuran baju di rumah, atau ingat belum mengerjakan tugas kuliah. Hal ini akan membuat performance kita kehilangan nyawanya. Fokus pada apa yang ingin kita ekspresikan di atas panggung.

Kesalahan umum di atas panggung
Kesalahan paling umum yang sering saya temui adalah memasukkan tangan ke saku samping. Ini gestur yang kurang enak dilihat, kecuali memang ada keperluannya misalnya dalam memerankan karakter di dalam teater musikal. Yang berikutnya, adalah gestur yang terlalu berlebihan, akhirnya audiens malah mengernyitkan dahi melihat kita dan bukan fokus pada lagunya. Dan yang terakhir, jangan bengong! Ketika kita sedang di atas panggung, semua gerak-gerik kita itu penting dan dilihat oleh audiens. Kadang-kadang ketika musiknya sedang masuk ke bagian instrumental, kita bengong sejenak, lupa bahwa kita sedang perform. Setiap saat, be present!