Power Suara

Power adalah salah satu topik dalam pelajaran vokal yang paling sering ditanya. Dari mana asal power? Jika kita membaca bab tentang instrumen vokal sebelumnya, maka kita tahu bahwa power berasal dari pernafasan dan pernafasan diatur oleh otot diafragma. Tapi pernafasan saja tidak cukup, energi yang besar harus bisa diimbangi dengan teknik vokal yang baik, khususnya penempatan resonansi suara atau tone placement. Karena pita suara kita ini tipis dan mudah cedera, bayangkan tenaga dari diafragma harus dibebani ke pita suara tanpa teknik yang baik, bisa bahaya. Selain dari teknik vokal, saya sangat percaya bahwa mental juga sangat berpengaruh kepada masalah power ini.

Yang lebih penting dari power besar adalah manajemen power itu sendiri. Karena kekurangan power dan kelebihan power hasilnya sama-sama fals.

Dulu, dalam seni pertunjukkan teater Yunani jauh sebelum ada sound system, para penampil harus bisa memproyeksikan suara mereka agar terdengar oleh seluruh penonton di arena pertunjukkan. Jika kamu mencari gambar salah satu arena mereka yang populer yaitu Teater Epidaurus di internet, kamu dapat melihat besarnya teater tersebut, dan juga lokasinya yang di luar ruangan, tanpa pantulan akustik. Sehingga perlu power yang besar untuk dapat memproyeksikan suara ke seluruh penonton. Teknologi loudspeaker itu baru ada di awal abad 19, jadi semua pertunjukkan sebelum itu, baik itu teater, opera, musik, hanya mengandalkan power para penampilnya serta pentulan akustik dari gedung pertunjukkan. Bayangkan penyanyi harus bernyanyi solo diiringi orkestra yang terdiri dari 50 musisi, tanpa microphone.

Latihan Hey You!
Pada dasarnya ini adalah latihan teriak. Tapi itu dia, bagaimana kita sebagai penyanyi yang terlatih, bisa berteriak dengan koordinasi teknik yang baik sehingga tidak mencederai suara sendiri. Seperti latihan sebelumnya, kita pindahkan beban ke suara pharyngeal dan tidak ke leher. Nanti setelah mulai terasa nyaman, kita bisa bereksperimen dengan berbagai warna dan penempatan suaranya.

Latihan nada panjang crescendo-decrescendo
Dalam latihan yang ini, kita belajar untuk mengkoordinasikan manajemen nafas dengan manajemen power. Latihan dimulai dari piano, naik ke forte, lalu kembali ke piano dengan stabil. Perhatikan untuk tidak membebankan power kita di leher, tempatkan suara kita di area wajah, selain itu juga jaga pitch, jangan sampai saat kita menambah power dan mengurangi power, pitch kita malah goyang.

Generator vokal
Sumber tenaga suara kita adalah pernafasan. Artinya untuk meningkatkan power, pertama sekali kita perlu meningkatkan kinerja pernafasan kita. Dan bicara pernafasan pasti bicara otot diafragma. Perlu kita ingat, otot diafragma itu besar dan kuat. Jadi setelah diafragma sudah terlatih dengan baik, jangan lupa teknik vokalnya. Karena semua tenaga dari diafragma itu jika mentah-mentah saja diterima pita suara, bisa cedera. Teknik vokal yang baik memungkinkan kita menyalurkan energi dari diafragma secara tepat dan seimbang.

Latihan dengan akustik dan jarak
Salah satu hal yang selalu saya lakukan ketika melatih kontestan kompetisi bakat di televisi adalah latihan bernyanyi di luar ruangan, dengan jarak kita, audiens, dengan penyanyi agak jauh, mungkin sekitar 20 meter, tanpa microphone, harus jelas, lantang, tapi tetap terkendali. Sebetulnya hal ini sudah biasa dilakukan pengamen di jalan, mereka terbiasa bernyanyi tanpa pengeras suara di kondisi luar ruangan, maka dari itu suara mereka umumnya lantang.

Berlatih dengan paduan suara
Dalam situasi bernyanyi di dalam grup, suara kita cenderung lebih lepas. Bernyanyi dalam paduan suara juga menuntut kita berlatih dengan suara yang bulat dan dinamika yang terkendali, dari keras hingga lembut. Latihan dengan paduan suara akan membantu kamu meningkatkan power kamu.

Nyanyi itu 90% mental

Banyak penyanyi yang mengeluh bahwa suara mereka rasanya tidak bisa benar-benar lepas. Saya katakan, sebelum kita membahas masalah power suara, cek dulu mental kita. Apakah kita cukup PD alias percaya diri dengan suara kita? Karena kebanyakan kasus “nyanyi tidak lepas” adalah masalah kurang PD. Bisa jadi ada pengalaman kurang mengenakkan saat dulu bernyanyi, dicela, diejek, dsb. Atau bisa jadi kondisi tempat tinggalnya tidak memungkinkan untuk nyanyi lepas, misalnya di kos-kosan, di aratemen yang kecil, sehingga dia tidak terbiasa nyanyi dengan lepas. Cek dulu mental kita. Yang pasti, PD bisa dikembangkan. Kalau kamu merasa kurang PD adalah sumber masalah kamu, tingkatkan dan kembangkan rasa PD dengan: 1. Latihan, 2. Meningkatkan penampilan, dan, 3. Perbanyak pengalaman nyanyi di hadapan orang. Dalam poin yang ketiga, mengunggah video nyanyi di sosmed juga termasuk menambah pengalaman.

YouTube VokalPlus: Meningkatkan power vokal